Rabu, 19 Agustus 2015

Intelegensi dan IQ



Review


Description: E:\LOGO\STAIN.jpg

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Nur Azizah






Disusun oleh :
EKA SAFITRI
NIM. 092332056
Tarbiyah/4 PBA 2



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
 PURWOKERTO
2010

Inteligensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
1.      Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
2.      Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.


REVIEW ARTIKEL
Judul : Inteligensi dan IQ
Diambil dari www.google.com

Inteligensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Intelegigensi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan dan lingkungan. Kedua faktor tersebut sama mempunyai pengaruh yang besar terhadap inteligensi. Inteligensi berkaitan erat dengan IQ, bakat serta kreatifitas. Akan tetapi dengan keterkaitan tersebut banyak orang yang menganggap sama antara inteligensi dengan IQ, bakat serta kreativitas.
Adapun perbedaan inteligensi dengan ketiga hal tersebut. Pertama, Inteligensi dibedakan dengan IQ karena Inteligensi merupakan kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Sedangkan, IQ merupakan skor dari sebuah tes kecerdasan (tingkatan dari Intelligence Quotient). Dapat kita lihat bahwa IQ hanyalah sebuah alat untuk mengukur inteligensi seorang individu. Kedua, Inteligensi dapat dikatakan sebuah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam menyesuaikan diri, seorang individu mempunyai kemampuan khusus untuk itu. Maka, kemampuan khusus itulah yang dapat dikatakan sebuah bakat. Bakat masing-masing individu berbeda-beda, hal tersebut karena pengaruh dua faktor di atas yaitu bawaan/keturunan dan lingkungan. Ketiga,Kreativitas merupak salah satu ciri dari inteligensi. Seseorang yang IQ-nya rendah maka tingkat kreativitasnya rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Tingkat Inteligensi seseorang dapat diukur dengan sebuah tes (alat ukur) salah satunya yaitu tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet. Dengan tes tersebut maka kita akan mengetahui tingkat inteligensi yang kita miliki.


Komentar artikel “Inteligensi dan IQ”
Oleh : Eka Safitri

Dalam artikel Inteligensi dan IQ, dinyatakan bahwa ada hubungn antara Inteligensi dengan IQ, bakat serta kreativitas. Menurut pendapat penulis, keempat hal tersebut memang terdapat perbedaan – perbedaan. Hal ini dapat kita lihat dalam buku Psikologi Belajar Mengajar karya Hamalik (2009:) telah dijelaaskan bahwa Inteligensi mempunyai tingkatan – tingkatan dalam IQ. Hal yang ada hubungannya dengan inteligensi yaitu faktor usia, hereditas, lingkungan, jenis kelamin serta ras.[1]Dalam karya Desmita (2010: 163) dikatakan bahwa pengertian inteligensi dapat dikategorikan dalam tiga kategori : 1) kemampuan menesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi dengan situasi-situasi baruatau menghadapi situasi-situasi yang sangat beragam.; 2) kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan; dan 3) kemampuan berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas simbol-simbol dan konsep-konsep (Phares: 1988).
IQ seseorang dapat berubah, perubahan tersebut dapat disebabkan karena berbagai faktor, antara lain :[2]
a.       Pendidikan lebih awal
b.      Perubahan lingkungan
c.       Iklim dalam lingkungan
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa IQ seseorang dapat berubah sesuai dengan pendidikan, lingkungan serta iklim dimana ia tinggal. Maka, dapat dikatakan juga, bahwa faktor lingkungan sangat besar pengauhnya dalam penentuan inteligensi seseorang.
            Bakat merupakan kemampuan khusus seorang individu. Menurut Virget menjelaskan bahwa pendidikan bagi anak-anak yang berbakat perlu perhatian yang saksama. Alasannya yaitu:
1.      Persepsi demokrasi menghendaki pemberian kesempatan luas bagi anak yang berbakat.
2.      Keberhasilan pendidikan bagi anak-anak dan pemuda
3.      Selama ini pendidikan di Indonesia kurang memperhatikan adanya bakat.
Oleh karena itu, bakat haruslah diperhatikan oleh pemerintah Indonesia khususnya agar pendidikan di Indonesia lebih maju dengan adanya bakat.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari inteligensi yang dalam pengembangannya membutuhkan ketrampilan untuk berkreasi. Kreativitas dan inteligensi mempunyai korelasi tinggi, kreativitas tidak sama dengan inteligensi (Brunnelle: 1971).[3] Seseorang yang mempunyai  IQ rata-rata dan dididik dengan perhatian khusus dan kecenderungan kepribadian tertentu maka ia akan menjadi orang yang kreatif. Akan tetapi, seseorang yang IQ tinggi dididik dengan paksaan orang tuanya untuk tunduk dan patuh terhadap perintah-perintahnya maka ia akan menjadi anak yang kreativitasnya terhambat. Maka dari itu, kebebasan seorang anak sangat berpengaruh atas perkembangan daya kreativitasnya.
Inteligensi, IQ, bakat dan kreativitas haruslah diperhatikan oleh seorang pendidik keluarga maupun sekolah. Hal ini dimaksudkan agar pendidikan yang ada dapat berjalan dengan roses yang lebih baik. Dengan adanya perhatian khusus dari seorang pendidik maka inteligensi, IQ, bakat serta kreativitas akan meningkat sehingga pendidikan di Indonesia menjadi semakin maju.



Referensi:

Desmita, 2010. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarnya.
Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.



[1]  Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), hlm. 89-92.
[2]  Ibid, hlm. 93
[3]  Ibid, hlm. 147

Tidak ada komentar:

Posting Komentar