Jumat, 21 Agustus 2015

Takhrij Hadits


FITRAH MANUSIA
Studi Kritik Sanad Hadits

A.  Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk Allah yang sangat unik, sehingga banyak hal yang melekat pada dirinya. Dalam kajian ini penulis melakukan penelitian sanad dalam hadits :
الفطرة خمس الختان والاستحداد ونتف الابط وقص الشارب وتقليم الاظفار
Dalam studi penelitian hadis ini penulis mengambil kata kunci الفطرة  dalam Kamus Al Mu’jam. Dalam kamus tersebut ditunjukan bahwa hadis tentang fitrah manusia terdapat dalam berbagai kitab hadits, diantaranya: Kitab Shahih Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Al Muwatho, Musnad Ahmad bin Hanbal[1].

B.  Redaksi Hadits
Adapun redaksi hadis-hadis tersebut antara lain:
1.      Sunan Ibnu Majah[2]
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا سفيان بن عيينة. عن الزهري، عن سعيد بن المسيب، عن أبي هريرة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الفطرة خمس. أو خمس من الفطرة: الختان والاستحداد وتقليم الأظافر ونتف الإبط وقص الشارب)).



2.      Al Muwatho[3]
وحدثني عن مالك عن سعيد بن أبي سعيد المقبري عن أبيه عن أبي هريرة قال خمس من الفطرة تقليم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط وحلق العانة والاختتان.

3.      Musnad Ahmad bin Hanbal[4]
     حدثنا عبد الله حدثني أبي حدثنا معتمر عن معمر عن الزهري عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم خمس من الفطرة قص الشارب وتقليم الأظفار ونتف الإبط والاستحداد والختان.


C.  Skema
Lampiran

D.  Kritik dan Analisis Sanad
1.    Ibnu Majah
Nama lengkanya Abu Abdillah bin majah. Abu Fadl Muhammad ibn Tahir Al Maqdasi mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 507 H. Dar Ali bin Said bin Abdillah Al Ghodani, murid-muridnya anatara lain Ibrahim bin Dinar Al Jarosi Al Hamdani, Jafar bin Idris, Muhammad bin ‘Isya Syafar. Guru-gurunya antara lain Ibn Syaibah. Sahabatnya Malik dan Al Laits: “Ibnu Majah serang ahli ilmu hadits dan mempunyai banyak kitab”. Ibnu Katsir berkata,” Ibnu Majah pengarang kitab Sunan, susunannya itu menunjukan keluasan ilmunya dalam bidang Usul dan furu’, kitabnya mengandung 30 Kitab; 150 bab, 4.000 hadits, semuanya baik kecuali sedikit saja”.
2.    Abu bakar bin Abi Syaibah
Namanya sebenarnya adalah Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah al Kufy, seorang hafidh yang terkenal. Ia wafat pada tahun 235 H. Guru-gurunya diantaranya Al Ahwash, Ibnu Mubarak, Syarik, Husyaim, Jarir, Wakie, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdy, Ibnu Qathan. Murid-muridnya antara lain Al Bukhary, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah. Para ulama sepakat bahwa Abu Bakar bin Syaibah adalah orang yang kuat hafalannya. Abu Zur’ah Ar Razy berkata,” Belum pernah saya melihat orang yang hapal dari pada Abu Bakar bin Abi Syaibah.
3.    Sufyan bin Uyainah
Namanya Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah bin abi Imron Maimun Al Hilali Al Kufi, seorang budak Muhammad bin Mazahim, Saudara kandung Ad-Dhahak bin mazahim. Kelahirannya: Muhammad bin umar berkata “ Sufyan bin Uyainah memberikan kabar padaku bahwasanya lahir pada tahun 107 H dan beliau wafat pada tahun 197H. Ia berasal dari Kuffah. Penilaian ulama terhadapnya, Muhammad bin Ishaq: perawi yang tsiqah, tsabit, banyak menghafal hadits dan menjadi hujjah di masanya. Adz Dzahabi : menghafal dan mencari hadits sejak kecil. Guru-gurunya: Al hafizh berkata,”Ibnu Uyainah meriwayatkan hadist dari Abdul Malik bin Umair, Abu Ishaq As Sabi’I, Ziyad bin Alaqah, Aswad bin Qais. Murid-muridnya Al A’Masy, Ibnu Juraij, Syu’bah, Mus’ar.
4.    Al Imam Az Zuhry
Namanya Muhammad bi muslim bin abdillah bin Shihab bin Abdillah bin Al Harits bin Zuhrah bin killab bin murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Beliau lahir pada tahun 50 H/51 H bertempat di Syam. Wafat pada tahun 125 H. Beberapa ulama yang menjadi gurunya yaitu Abdullah bin Tsa’labah bin Sughair, Mahmud bin Al Rabi’, Mahmud bin Lubaid. Sedangkan murid-muridnya antara lain Amr bin Dinar, Qatadah bin Du’amah, Zaid bin Aslam. Penilaian para ulama: Umar bn Adul Aziz; lebih tahu tentang sunnah Rasul, Ad Darawardi; orang yang ertam aklai membukukan ilmu pengetahuan, Ahmad  bin Hanbal; orang yang paling kompeten dalam hadits yang paling baik sanadnya.
5.    Said Bin Al Musayyib
Nama lengkapnya adalah Said bin Al Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb ibnu Amr bin A’id bin Imran bin Makhsum al Quraisy Al Makhzumi Al Madani. Menurut adz Dzahabi Ia lahir di saat pemerintahan Umar bin Khatab menjadi khalifah berjalan dua atau empat tahun. Beliau wafat pada usia 75 tahun di madinah pada tahun 94 H. Diantara ulama yang menjadi gurunya yaitu Umar bin khatab, Utsman bin affan, Ali bin Abi Tahlib, Sa’ad bin al waqash. Sedangkan ulama yang menjadi muridnya yaitu Salim bin Abdullah bin Umar, Az Zuhri, qatadah. Komentar ulama terhadap kepribadiannya, dari Makhul: luas wawasannya, Abu Zuhrah: mudah bergaul dan dapat dipercaya. Abu Hatim; orang yang paling shahih meriwayatkan hadis-hadis Abu Hurairah.
6.    Abu Hurairah
Nama lengkapnya Abdurahman ibn Sakr (Abdullah bin Sakhr) Ad Dausi At Tamimi. Beliau lahir pada abad sebelum hijriyah (602 M). Beliau lahir di Madinah pada tahun 57/58 H. Penilaian para ulama, Abu Shaleh As Samman:  أحفظ أصحاب محمد ص م  من   dan dipuji oleh Rasul sebagai saah seorang yang akan membantu manusia dan memperoleh syafa’at Rasul. Imam Syafi’i: حفظ من روى الحديث فى دهرة أ .
E.  Syarh Al Hadits; Sebuah Pemaknaan Kontekstual
     Adapun ciri-ciri fitrah manusia juga terdapat dalam hadis – hadi diantaranya:
(144). Dalam hadits, Abu Hurairah r.a, dia berkata: Nabi SAW telah bersabda: “ Fitrah manusia ada lima,” atau mungkin ada riwayat yang menerangkan:” Ada lima perkara yang dikategorikan sebagai sifat fitrah seorang manusia: Berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan menggunting kumis.”

(145). Diriwayatkan dari Abu Umar r.a, dia telah berkata: Nabi SAW telah bersabda: “ Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot.”
Hadis di atas menjelaskan bahwa disunnahkan untuk khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak menggunting kumis serta memanjangkan jenggot.

Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa lima fitrah manusia diantaranya:
1.    Khitan
Khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن) yang berrti memotong. Sedangkan al-khatnu berarti memotong kulit yang menutupi kepala dzakar dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas farji (clitoris) dan al-khitan adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. Khitan hukumnya sunnah dan ada pula yang mengatakan wajib dengan argument masing-masing.
Berkata Imam Nawawi, “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala dzakar sehingga kepala dzakar itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas farji.”(Syarah Sahih Muslim 1/543, Fathul Bari 10/340).[5]

2.    Mencukur rambut kemaluan
Menurut ahli kesehatan mencukur rambut kemaluan sangat dianjurkan, karena jika rambut terlalu panjang maka akan memicu tumbuhnya kuman/bakteri. Daerah ini merupakan tempat yang mudah untuk tumbuh dan berkembangnya penyakit, sehingga perlu untuk dibersihkan. Hukum mencukurnya adalah sunnah. Banyak orang yang mengatakan hal demikian adalah aneh, akan tetapi Rasullullah juga telah mencontohkan hal yang aneh sekalipun.
Abu Bakar ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata “Rambut kemaluan ini merupakan rambut yg lbh utama utk dihilangkan krn tebal banyak dan kotoran bisa melekat padanya. Beda hal dgn rambut ketiak. ”Waktu yg disenangi utk melakukan istihdad adalah sesuai kebutuhan dgn melihat panjang pendek rambut yg ada di kemaluan tersebut. Kalau sudah panjang tentu harus segera dipotong/dicukur.[6]

3.    Mencukur bulu ketiak
Mencukur bulu ketiak merupakan perbuatan sunnah dan disenangi. Mencukur dapat dilakukan dari sebelah kanan atupun yang kiri. Boleh dilakukan dengan mencabutnya jika kuat menahan rasa sakitnya.
4.    Memotong kuku
Memotong kuku menjadi sunnah, bukan wajib. Memotong kuku dapat dilakukan memotong kuku tangn terlebih dahulu kemudian kaki. Rasuluullah SAW mencontohkan memotong kuku sebelah kanan terlebih dahulu. Tetapi hal ini tidak terdapat dalil yang jelas untuk melakukannya. Memotong kuku juga dapat dilakukan pada hari jumat, karena sungguh tidak ada larangan untuk melakukannya, membersihkan sesuatu pada hari jumat perkara disyariatkan.
5.    Mencukur kumis
Kumis merupakan rambut yang tumbuh di atas bibir. Anjuran untuk memotongnya dapat dilihat dalam suatu hadits yang artinya “Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot”. Kumis yang panjang dapat menutupi bibir, sehingga lebih baik untuk dipotong. Dengan demikian dalam masalah memotong kumis dan memanjangkan jenggot bertujuan untuk menjaga kebersihan pada bibir dan daerah tempat masuknya makanan dan minuman.

F.   Kesimpulan
Dari pemaparan hadits di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa hadis  tersebut dalam kategori hadits ahad. Manusia mempunyai fitrah lima yang tercantum dalam bernagai redaksi hadits. Fitrah tersebut dilakukan oleh Nabi Saw sehingga sebagai umat islam meneladani Nabi Mhammad Saw adalah sesuatu yang mulia. Hal ini disebabkan karena segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang tentu saja mempunyai faedah ataupun manfaat di baliknya.













DAFTAR PUSTAKA

Ghafur, Wahyono Abdul. 2002. Gender dan Islam (Teks dan Konteks). Yogyakarta: PSW  IAIN Sunan Kalijaga.
Mahali, Ahmad Mudjab. 2004. Hadis-Hadis Muttafaq ‘Alaih Bagian Ibadat. Jakarta Timur: Kencana.
Jumantoro, Totok. 2002. Kamus Ilmu Hadis. Jakarta: Bumi Aksara.

Al ‘Asqolni, Ali bin Hajar. 1995. Kitab Tahdzib Tahdab Juz 7. Damaskus: Draul Fiqr.

Weinsic, A. J. 1943. Al Mu’jam Al fadhli Al Hadits An Nabawi  Juz 2 (kho – sin). Libanon: Biril.
Malik bin An Nas. 2005. Al Muwatho. Qoharoh: Darul Hadits
Abd Al Qoratho, Muhammad. Musnad Ahmad bin Hanbal. Beirut: Darul Kutub.
Faturrahman,Sa’i. 2012. ”Lima Fitrah Mnausia”, diambil dari www.wordpress.com pada tanggal 19 Juni 2012.
Farid, Syaikh Ahmad. 2007. 60 Biografi Ulama Salaf. Pustaka Al kautsar.




[1] A.J Weinsic, Al Mu’jam Al fadhli Al Hadits An Nabawi  Juz 2 kho - sin, (Libanon: Biril, 1943), hlm.11.
[2] Shoriqo Majil Al ‘athor, Sunan Ibnu Majah Juz 1, (Beirut: Darul Fikr, 2004).  
[3] Malik Bin An Nas, Al Muwatho, (Qoharoh: Darul Hadits, 2005), hlm 636.
[4] Muhammad ‘Abd Al Qor’atho, Musnad Ahmad bin Hanbal Juz 4, (Beirut: Darul Kutub Al ‘Alamiyah,1971).   
[5] Sa’I Faturrahman,”Lima Fitrah Mnausia”, diambil dari www.wordpress.com pada tanggal 19 Juni 2012.
[6] Sa’I Faturrahman,”Lima Fitrah Mnausia”, diambil dari www.wordpress.com pada tanggal 19 Juni 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar