Rabu, 19 Agustus 2015

Sistem Pembelajaran


SISTEM PEMBELAJARAN  BERDASARKAN PAHAM EKSISTENSIALISME
Paham eksistensialisme menganggap bahwa dalam pendidikan seharusnya siswa dibebaskan berkreasi sesuai dengan bakta dan minatnya tanpa mengakui adanya aturan-aturan. Bagi paham ini manusia dianggap ke”beradaan”nya jika ia betindak atau melakukan sesuatu yang menjadikan dirinya selalu bereksistensi di dunia ini. Eksistensi dalam makna khususnya yaitu cara manusia berada di dalam dunia. Maka dari itu keberadaan manusia ditentukan oleh cara dia bertingkah laku.
Berdasarkan pmahaman tersebut, maka dapat dikatakan bahwa paham tersebut selaras dengan sistem pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa.
Adapun macam – macam pembelajaran tersebut diantaranya :
1.      CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)
2.      PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
3.      PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif dan Menyenangkan)
4.      Edutainment Plus
5.      Iqra’
6.      Model Teori Quantum
Model Pembelajaran tersebut mengharuskan adanya keaktifan dalam diri siswa. Sehingga seorang guru hanya sebagai mitra belajar bagi siswa yang hanya mengarahkan dan memotivasi siswa untuk terus belajar. Dalam karya Dr.Moh.Roqib,M.Ag tentang Prophetic Education menyatakan bahwa tugas  umum seorang pendidik adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi subjek didik. Bagaimanapun setiap siswa mempuyai sifat potensial yang dibawa sejak lahir., sehingga perlu adanya upaya- upaya manusi itu sendiri untuk mengembang-tumbuhkannya menjadi faktual dan aktual. Faktual dan aktual disini dapat kita samakan dengan eksistensi.
Adapun kesimpulan penulis terhadap sikap seorang guru yang seharusnya dilakukan saat ia mengajar menurut paham eksistensialisme, berdasarkan model pembelajaran aktive learning yaitu :
1.      Membiarkan siswanya belajar secara mandiri
2.      Bimbingan dalam belajar hanya saat siswa merasa kesulitan
3.      Guru haanya memberikan sedikit teori dan memperbanyak praktek
4.      Penerapan Model bottom up
5.      Guru tidak boleh membatasi siswanya untuk berpendapat ataupun berkreasi.
6.      Guru bertindak sebagai mitra belajar bagi siswa
Dari kesimpulan di atas penulis dapat memahami bahwa pengembangan potensi dan kreativitas seseoran sangatlah penting dalam pengembangan dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh kecintaan. Jika seseorang cinta atau berminat dalam sutu hal, maka ia akan melakukannya secara optimal dan dengan kenyamanan.

Referensi
Roqib, Moh. 2011. Prophetic Education (Kontekstualisasi Filsafat dan Budaya
                     Profetik dalam  Pendidikan). Purwokerto: STAIN PRESS
Mahanaya, Maman.S. 2009. “Perkembangan Bahasa Indonesia Melayu di Indonesi dalam Konteks Sistem Pendidikan” dalam Insania Vol.14, No. 3. September-Oktober 2009



Tidak ada komentar:

Posting Komentar