Kamis, 20 Agustus 2015

Membaca


MEMBACA

Makalah


Disusun Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Metode Pembelajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Drs. Subur, M.Ag



Disusun oleh :
1.      Fatkhan Munif      (NIM. 092332049)
2.      Nur Asiyah           (NIM. 092332054)
3.      Eka Safitri                        (NIM. 092332056)
Tarbiyah. 6 PBA2





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2012
BAB I
PENDAHULUAN

          Kemahiran dalam berbahasa arab ada empat yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat hal tersebut menjadi bahan acuan bagi seorang guru untuk membuat perencanaan pembelajaran di kelas. Adapun pembahasan dalam makalah ini ialah mengenai membaca. Membaca merupakan salah satu kemahiran yang harus ada dalam setiap siswa Membaca merupakan modal untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang ada.
          Membaca menjadikan kita mengetahui banyak hal dalam buku-buku bacaan, baik buku secara kasap mata ataupun buku yang tersedia di semesta. Ada beberapa hal yang penulis sampaikan dalam makalah ini terkait dengan membaca untuk mengkaji bagaimana perkembangan membaca hingga saat ini ataupun tentang banyak hal ynag terkait dengan membaca.



























BAB II
PEMBAHASAN

A.      Perkembangan Membaca
      Membaca merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi dalam kegiatan kita sehari-hari. Dimanapun dan kapanpun aktifitas membaca bisa kita lakukan. Dalam pembelajaran membaca merupakan sesuatu yang wajib diajarkan kepada peserta didik. Dalam hal ini, tentu saja membaca mengalami sebuah tahapan – tahapan perkembangan yang terbagi dalam 4 tahapan (Ibrahim, 57) yaitu:
1.      Dahulu pemahaman tentang bacaan masih terbatas hanya dalam wilayah yang sempit, seperti halnya sekedar penglihatan untuk mengetahui rumus – rumus tata bahasa yang tertulis dalam bacaan, mengenal suatu bacaan serta mampu melafadzkan bacaan.
2.      Sesuai dengan perkembangannya, kemudian membaca diartikan sebagai aktifitas berpikir akal yang bertujuan untuk memahami apa yang ada dalam bacaan.
3.      Perkembangan selanjutnya dalam aktifitas membaca terdapat unsur interaksi antara pembaca dan apa yang dibaca yang dapat menimbulkan rasa senang, sedih, cinta, beci dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena  adanya hati yang ikut serta membaca sehingga mampu menghasilkan ekspresi bagi masing-masing pembaca.
4.      Menggunakan apa yang dibaca sebagai alat untuk menghadapi masalah-masalah seperti halnya menjadikan apa yang sudah dibaca menjadi hujjah dalam setiap ucapan ataupun argument yang kita ajukan. Selain itu, dapat memanfaatkan bacaan untuk diterapkan dalam bersikap sehingga lebih efektif.
       Dari keempat tahapan perkembangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam memahami bacaan maka tergantung dari tingkatan pembacanya. Jika masih awam seperti anak kecil, maka membaca hanya sebatas aktifitas belajar saja tanpa dapat dimanfaatkan sebagai hujjah atau dalil dalam berpendapat.
B.       Tujuan Membaca
       Tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, dan memahami makna bacaan (Tarigan, 1987: 9). Dalam aktifitas membaca kita dapat menemukan apa yang belum kita ketahui, misalnya mengetahui tentang penemuan-penemuan penulis, masalah yang terjadi dalam bacaan, alur pikir dari penulis dan lain sebagainya.
       Proses membaca sebenarnya dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara bahasa percakapan dan tulisan yang terdiri dari bahasa ucapan dari arti dan lafadz yang bisa menunjukan arti tersebut. Adapun unsur-unsur dalam membaca ada tiga (Ibrahim, 57) yaitu arti, lafadz yang memyusun arti tersebut dan rumus yang tertulis. Jika dari ketiga unsur tersebut telah dipadukan secara sempurna, maka terbentuklah susunan kalimat yang efektif  dalam bahasa percakapan. Oleh karena itu, dalam membaca harus memperhatikan unsur-unsur tersebut.
C.      Jenis Membaca
1.      Membaca dilihat dari ada tidaknya suara
a)    Membaca Diam
Pada dasarnya membaca diam (dalam hati) meringankan bagi pembaca tersebut. Adapun keistimewaan dengan membaca diam dapat dilihat dari beberapa aspek (Ibrahim, 62) yaitu:
·         Sosial : tidak mengganggu orang lain dan labih mudah untuk memahami isi bacaannya. Seperti halnya jika ada orange yang membaca secara keras di dalam mobil, maka ia akan mengganggu orang lain dan secara sosial tidak baik.
·         Ekonomi : Lebih ekonomis dalam mengeluarkan suara sehingga tidak mudah lelah jika membaca dalam hati.
·         Pemahaman : Membaca dalam hati lebih dapat memahami isi bacaan sehingga kita dapat lebih mudah menghasilkan dari apa yang kita inginkan yakni pemahaman. Contohnya dua anak yang membaca secara diam dam keras ternyata setelah diteliti, anak yang membaca secara diam lebih memahami apa yang ia baca daripada anak yang membaca secara keras, karena ia hanya terpaku pada apa yang ia baca sehingga konsentrasinya terpecah.
·         Pendidikan dan Psikologis : lebih mudah, karena terbebas dari beban melafalkan kata-kata yang dibaca. Selain itu, keadaan pikiran menjadi tenang dan lebih menyenangkan.
Faktor-faktor yang mendorong siswa untuk membaca dalam hati:
·         Guru memberikan pertanyaan – pertanyaan kepada siswa, untuk memancing siswa membaca agar dapat menjawabnya
·         Mengadakan lomba untuk bersaing cepat-cepatan membaca serta memahami bacaan tersebut
·         Membaca buku-buku di luar kelas
·         Membaca di perpustakaan
·         Membaca buku cerita
·         Melatih siswa membaca dalam hati, salah satunya dengan kartu.
Bentuk materi yang dapat dibaca dengan membaca dalam hati seperti membaca cerita, ragam anekdot, koran-koran, sastra, surat-surat resmi dan sebagainya. Akan tetapi, dalam membaca diam tetap harus memperhatikan tingkatan pembaca sehingga suasana ynag menyenangkan akan tetap terjaga.
b)   Membaca Keras
Membaca keras yaitu membaca dengan melafalkan dengan suara yang jelas. Membaca keras juga disebut dengan “membaca teknis”, karena mengandung aspek artistik dan tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk membaca teknis ini (Effendy, 2009: 159). Menurut Moulton yang dikutip oleh Tarigan disebutkan bahwa jika membaca dalam hati hanya mempergunakan visual memory (ingatan visual) saja, sedangkan menbaca keras memnggunakan auditory memory (ingatan pendengaran) serta motor memory (ingatan yang bersangkut paut dengan otot-otot kita).
Keistimewaan membaca dengan cara ini yaitu merupakan cara yang efektif untuk menguatkan ucapan, memperbaiki apa yang telah disampaikan, menggambarkan arti terutama pada kelas awal serta sebagai alat untuk mengetahui kesalahan murid jika terjadi kesalahn dalam membaca.
Adapun bentuk-bentuk bacaan yang dapat dibaca secara keras diantaranya buku opini dari seseorang, membaca syair-syair agar dapat di dengar oleh orang lain, membaca untuk memberikan informasi kepada orang lain. Membaca keras ini dapat dilakukan di semua tingkatan pendidikan tetapi juga harus disesuaikan dengan tingkatan pembaca.
2.      Membaca dilihat dari tujuan orang yang membaca
a.       Membaca cepat
b.      Membaca untuk mengetahui pikiran utamanya
c.       Membaca untuk memahami
d.      Membaca untuk mengumpulkan pengetahuan
e.       Membaca untuk menikmati sastra
f.       Membaca untuk mengkritisi dan menganalisa.
Guru dapat mengajarkan siswanya dalam hal membaca cepat, membaca untuk mengetahui pikiran utamanya serta membaca untuk mengumpulkan pengetahuan.
3.      Membaca dilihat dari sisi persiapan otak
a.       Membaca untuk belajar
b.      Membaca untuk kesenangan.
D.      Cara Mengajarkan Membaca
Membaca secara efektif haruslah dilatih secara bertahap, agar dapat mahir dalam membaca (Ibrahim, 70). Pertama, bahasa harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat membantu siswa untuk membiasakan melafalkan kosakata-kosakata. Kedua, siswa harus sering diajarkan mutholaah agar apa yang telah dipelajari dapat teringat kembali, dan membiasakan siswa untuk banyak meluangkan waktunya untuk membaca. Ketiga, siswa diberikan materi qowaid agar siswa mengetahui tata bahasanya.
       Cara mengajarkan membaca menggunakan berbagai macam model latihan (Effendy, 2009: 162) yaitu :
1.      Belajar memperkaya kosa kata
2.      Belajar mengenal (kognisi) isi bacaan, meliputi:
a). Belajar mengetahui dan mengingat
b). Belajar memahami
c). Belajar mengaplikasikan pengetahuan
d). Belajar menganalisis
e). Belajar mensintesis
f). Belajar Mengevalusi
       Dengan latihan tersebut, maka tampak jelas bahwa kemahiran dalam membaca membutuhkan latihan-latihan. Membaca erat kaitannya dengan materi lainnya seperti qowaid, mutholaah serta muhadatsah. Selain itu, dalam membaca terdapat tingkatan pemahaman yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
E.       Aspek-Aspek Membaca
  Hal yang dituntut dalam membaca ada empat hal yaitu istima’, sur’ah, tholaqoh, fahm. Istima’ (memdengarkan) merupakan bagian dari membaca dan merupakan jalan untuk dapat memahami bacaan. Pentingnya membaca dengan telinga draipada dengan mata merupakan cara alami untuk menerima segala sesuatu dari luar. Seperti halnya seorag bayi yang lebih dulu mendengarkan untuk dapat membaca di hari esok. Bentuk-bentuk istima’ yang dapat kita lihat dalam pembelajaran diantaranya dengan tanya jawab, mendongeng, khutbah dan murokkobat.
  Untuk melatih istima’, maka diperlukan latihan – latihan yaitu guru menyampaikan cerita-cerita yang baik dengan berbahasa arab untuk diperdengarkan kepada siswa, guru mendikte siswa (imla’), menyampaikan meteri dengan bahasa arab serta memperdengarkan siaran berbahasa arab kepada siswa-siswa.
Adapun aspek-aspek membaca ada dua (Tarigan, 1979: 13)yaitu:
1.      Ketrampilan mekanis
a.       Pengenalan bentuk huruf
b.      Pengenalan unsur-unsur linguistik
c.       Pengenalan hubungan bunyi dan huruf
d.      Kecapatan membaca: lambat.
2.      Ketrampilan pemahaman
a.    Pemahaman pengertian sederhana
b.    Pemahaman signifikansi/makna
c.    Kecepatan membaca: fleksibel.
        Menurut penulis, dalam membaca tentu saja terdapat tingkatan pemahaman seperti dalam penjelasan di atas. Tingkatan tersebut sangat tergantung masing-masing individu, sehingga antara anak kecil dan orang dewasa berbeda tingkat pemahamannya serta bacaan yang dibaca, meskipun ada salah seorang dewasa yang membaca buku bacaan anak-anak.
























BAB III
PENUTUP

            Membaca merupakan suatu hal yang dituntut kemahirannya dalam dunia pedidikan khususnya. Berawal dari perkembangan, tujuan, fungsi, jenis, cara mengajarkan serta aspek membaca telah diuraikan di atas. Dapat kita ketahui bahwa dalam membaca membutuhkan berbagai ketrampilan untuk dapat menjadi pembaca yang baik. Pembaca yang baik adalah ia yang bisa mengungkapkan kembali apa yang ia baca dan pahami terhadap suatu bacaan kepada orang lain.
Tidak ada cara membaca yang terbaik karena semua hasil yang baik tergantung kepada masing-masing pembaca. Membaca diam maupun membaca keras, keduanya sama-sama mempunyai kekurangan dan kelebihan. Keberhasilan seorang pembaca tidaklah ditentukan apakah ia membaca diam atukah keras karena masing – masing orang mempunyai cara untuk memahami bacaan dengan caranya sendiri. Akan tetapi, bagaimana ia memahami dan menguasi isi bacaan dengan baik.
           














DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Ahmad Fuad. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat
Ibrahim, Chamadah. 1987. Al Ittijaha Al ma’ashiroh (Fii Tadriisil Lughotil ‘Arabiyah Wal Lughot Al Hayyah Al Ukhro Lighoirinnaatiqiin Biha). Kairo:  Daarul Fikril ‘Aroby.

Ibrahim, Abdl ‘Alim. Al Muwajjatul Fana (Limudarrisil Lughotil ‘Arobiyah):
Daarul Ma’arif

Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca (Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa). Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar