Jumat, 21 Agustus 2015

TEKNIK MENERJEMAHKAN KARYA SASTRA


TEKNIK MENERJEMAHKAN KARYA SASTRA

Makalah


Disusun Guna Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah: Tarjamah
Dosen Pengampu : Ali Muhdi



Disusun oleh :
1.      Arin Purwo T               NIM. 0923320
2.      Khamdiyah                  NIM. 092332049
3.      Kunny Rifkia A           NIM. 092332046
4.      Nur Asiyah                   NIM.092332054
5.      Eka Safitri                    NIM. 092332056
6.      Rastri Izzah N              NIM. 092332057
7.      Tasbihan                       NIM. 092332061
Tarbiyah. 6 PBA 2





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2012
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam menerjemahkan bahasa sumber ke dalam bahasa target haruslah mempunyai bekal ketrampilan membaca dam menulis yang baik. Selain itu, pengetahuan serta wawasan yang luas juga diperlukan untuk menerjemahkan bahasa sumber tersebut karena sangatlah membantu seorang penerjemah untuk dapat menerjemahkan secara tepat.
Terjemahan ialah pindahan dari satu bahasa ke bahasa lain. Karya sastra terjemahan adalah karya sastra yang dialih bahasakan (dipindahkan) dari bahasa asal ke bahasa yang lain. Sastra terjemahan dibuat untuk bacaan bukan penuntut bahasa asal.
Terjemahan karya sastra dibagi menjadi dua yaitu :
1. Terjemahan karya sastra kreatif,seperti Novel,cerpen,puisi dan drama
2. Terjemahan karya sastra deskriptif, seperti, essay, karya sastra Ilmiah teori sastra dan kritik sastra.
    



















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Proses Penerjemahan Karya Sastra
Menerjemah merupakan proses mengalihkan bahasa dari bahasa yang satu ke bahasa lainnya baik dari segi pesan yang tersirat maupun dari segi bahasanya. Adapun syarat-syarat menjadi penerjemah yang baik, antara lain[1]:
-   Memahami dan menguasai bahasa sumber
-   Menguasai dan mampu memakai Bsa dengan baik, benar dan efektif
-   Mengetahui dan memahami sastra, apresiasi sastra, serta teori terjemahan
-   Mempunyai kepekaan terhadap karya sastra yang tinggi
-   Memiliki keluwesan kognitif, dan keluwesan sosiokultural
-   Memiliki keuletan dan motivasi yang kuat.
Karya sastra mengandung pesan khusus yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca dengan menggunakan bahasa yang mengandung unsur estetik yang tinggi. Dalam karya sastra mengandung unsur-unsur keindahan bunyi, kata maupun ungkapan. Menerjemah karya satra tidak hanya memerlukan ketrampilah kreatif tersendiri, tetapi juga harus mempunyai kemampuan untuk memahami serta mengapresiasikan suatu karya sastra.
Oleh karena itu, penerjemahan karya yang sempurna maka dapat dilakukan oleh penerjemah yang sekaligus sastrawan kreatif. Hal ini ditujukan agar terjemahan yang dihasilkan akan lebih baik.

  1. Menerjemahkan Puisi
Hal-hal yang dapat menjadi penghalang dalam menerjemahkan karya sastra adalah sebagai berikut:
  1. Adanya pengaruh budaya bahasa sumber  yang tentu saja berbeda dengan bahasa target yang dapat menyulitkan seorang penerjemah.
  2. Dalam hal pesan moral, penerjemah kesulitaan dalam mengungkapkan ciri khas pengarang  aslinya. Menerjemahkan cerpen atau novel cenderung lebih mudah dari pada menerjemahkan puisi. Hal ini disebabkan karena kata-kata yang digunakan dalam cerpen ataupun novel tidak sepadat dan sehemat dalam puisi.  Keindahan dalam sebuah cerpen atau novel tidak begitu tergantung pada pilihan kata, rima, dan irama, tetapi lebih terletak pada alur cerita dan pengembangan tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritera itu.
Terjemahan adalah suatu proses mengalihkan “suasana batin” dari pengarang dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Penerjemah karya sastra berkaitan erat  dengan dengan suasana sentimental. Dengan memiliki perasaan sentimental, penerjemah akan memiliki kemampuan untuk mengalihkan bukan saja bahasa, bahan atau materi, budaya, tetapi juga perasaan, suasana batin pengarang.
Menerjemahkan puisi sangat memerlukan kemampuan untuk  mengalihkan suasana batin ini. Sehingga, pesan yang disampaikan si penyair akan sampai kepada penikmat puisi dengan baik.

  1. Aturan Umum Menerjemahkan Puisi
Beberapa aturan umum dalam menerjemahkan karya sastra (terutama puisi)[2]:  
  • Penerjemah hendaknya tidak menentukan langkahnya hanya untuk menerjemahkan kata per kata atau kalimat per kalimat saja. Ia harus selalu mempertimbangkan keseluruhan karya, baik karya aslinya maupun karya terjemahannya. Penerjemah harus menganggap naskah aslinya sebagai satu kesatuan unit yang integral, meskipun pada saat menerjemahkan, ia mengerjakan bagian per bagian saja. Dalam terjemahan puisi, penerjemah dapat membagi puisi menjadi unit-unit terjemahan dalam baris-baris, atau membaginya menjadi bait-bait.
  • Penerjemah hendaknya menerjemahkan idiom menjadi idiom pula. Idiom dalam BSu hendaknya dicari padanannya dalam idiom BSa, meskipun kata-kata yang dipergunakan tidak sama persis. Misalnya, idiom kambing hitam dalam bahasa Indonesia mempunyai padanan “scape goat” dalam bahasa Inggris. Apabila betul-betul tidak ada padanannya, barulah idiom itu bisa diterjemahkan tanpa menghilangkan makna batinnya.
  • Penerjemah hendaknya menerjemahkan maksud menjadi maksud juga. Muatan emosi dalam ekspresi BSu-nya bisa saja lebih kuat dari pada muatan emosi dari padanannya dalam BSa. Sebaliknya, ekspresi tertentu terasa lebih pas dalam BSu, tetapi menjadi janggal dalam BSa, apabila diterjemahkan secara literal. Sebagai ilustrasi, saya mengambil contoh suatu situasi  dalam sebuah film, yaitu ada seseorang yang terus menerus membicarakan orang lain. Akhirnya temannya berkata dalam bahasa Jepang, “Yamete”. Terjemahan itu akan terdengar agak lucu dan canggung apabila diterjemahkan menjadi “Berhenti”. Saya pikir dalam karya sastra akan lebih baik kalau ekspresi itu diterjemahkan menjadi “Sudahlah”.
  • Penerjemah hendaknya berani mengubah hal-hal yang perlu diubah dari BSu ke dalam BSa dengan tegas. Belloc mengatakan bahwa inti kegiatan menerjemahkan puisi adalah kebangkitan kembali “jiwa asing” dalam tubuh pribumi. Yang dimaksud dengan jiwa asing dalam tubuh pribumi adalah makna ceritera dalam BSu, sedangkan tubuh pribumi ini adalah bahasa sasarannya (BSa).
  • Meskipun penerjemah dapat mengubah apa yang perlu diubah, tetapi pada langkah keenam, penerjemah tidak boleh membubuhi teks aslinya dengan hiasan-hiasan yang terlalu banyak yang dapat membuat teks dalam BSa itu lebih buruk atau lebih indah sekalipun. Tugas penerjemah adalah menghidupkan kembali jiwa asing tadi, bukan mempercantik, apalagi memperburuknya.
Dari prinsip-prinsip utama di atas, penulis berkesimpulan bahwa para penerjemah karya sastra (khususnya puisi) perlu mempertimbangkan bahwa naskah merupakan satu keseluruhan yang tak terpisahkan. Selain itu, juga mengakui bahwa ada kewajiban moral bagi para penerjemah untuk setia pada naskah aslinya. Penerjemah  mempunyai hak untuk menambah atau mengurangi kata-kata dalam naskah asli dalam proses penerjemahan agar hasilnya sesuai dengan aturan-aturan tata bahasa dalam bahasa target. Dengan demikian jelas bahwa, dalam penerjemahan puisi, penerjemah hendaknya mementingkan makna atau pesan, baru kemudian gaya.
Menerjemahkan akan sangat ideal apabila antara pesan dan gaya dapat hadir secara bersamaan. Artinya bahwa penerjemah mampu menghadirkan keduanya, pesan dan gaya  dalam bahasa sasaran secara bersamaan. Dalam penerjemahan sebuah karya, keduanya memegang peran yang sama pentingnya apalagi dalam menerjemah puisi, tanpa gaya akan terasa kering rasanya.

3.      Contoh Terjemahan Puisi

دعاه الى الحق ذو العرش دعوةا
الى جنة يحيا بها وسرور
فذالك ما كنا نرجى و نرتجى
لحمزة يوم الحشر خير مصير
فوالله لا أنساك ما هيت الصبا
بكاءا و حزنا محضري ومسيري على أسد الله الذى كان مدررها
يدود عن اﻹسلامش كل كفور
أقول وقد أعلى النعي عشيرتى
جزى الله خيرا من أخ و مصير

Terjemahan:
Illahi Rabbi pemilik ‘arasy telah memanggilnya datang
Ke dalam surge tempat hidup bersenang-senang
Memang itulah yang kita tunggu dan selalu harapkan
Hingga di yaumul mahsyar Hamzah beroleh tempat yang lapang
Demi Allah, selama angin barat berhembus daku takkan lupa
Baik diwaktu bermukim maupun bepergian ke mana saja
Selalu berkabung dan menangis Singa Allah Sang Pemuka
Pembela islam terhadap setiap kafir orang angkara
Sementara daku mengucapkan syair, keluarga sama berdoa
Semoga Allah memberimu balasan, wahai saudara, wahai pembela

















BAB III
PENUTUP

            Menerjemahkan karya sastra membutuhkan ketrampilan yang khusus, karena tidak semua orang bisa menjadi penerjemah karya sastra yang baik. Selain ia harus mahir dalam menguasai bahasa sumber ia juga harus memahami tentang karya sastra yang memadai.  Penerjemah karya sastra yang ideal dapat dilakukan oleh orang yang juga merupakan seorang sastrawan kreatif.
Karya sastra dapat berbentuk dalam berbagai macam, antara lain novel, cerpen, puisi. Menerjemahkan puisi lebih sulit untuk dilakukan, karena dalam puisi menggunakan bahasa yang sudah terpadatkan sehingga membutuhkan pemikiran dan perasaan juga turut serta dalam pelaksaannya. Penerjemah tersebut haruslah mengasai ilmu sastra dengan baik, ilmu sastra tersebut dapat berupa pemahaman latar belakang pengarang, gaya bahasa, mood, aspek-aspek yang ada dalam karya, gaya atau style pengarang karya sastra dalam menuangkan isi ceriteranya. Dengan hal tersebut, maka hasil terjemahan akan menjadi baik.


















DAFTAR PUSTAKA

Suparno, Abdurrahman dan Mohammad Azhar. 2005. Mafaza (Pintar Menerjemahkan bahasa Arab-Indonesia). Yogyakarta: Absolut.

Devi. 2009. “Proses Penerjemahan Puisi” dalam www.wordpress.com diakses pada 17 April 2012.

Paputungan, Moh Zulkifli. 2010.”Metode Penerjemahan bahasa Ala Newmark” dalam
 www. wordpress.com diakses pada 17 April 2012.


           
           
           
           




[1] Devi, “Proses Penerjemahan Puisi” dalam www.wordpress.com diakses pada 17 April 2012.

[2] Devi “Proses Penerjemahan Puisi” dalam www.wordpress.com diakses pada 17 April 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar